Pelapukan Sebagai Penyebab Retakan di Lereng Gunung Wilis


.


Gunung Wilis adalah sebuah gunung non-aktif yang terletak di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Gunung Wilis memiliki ketinggian 2552 meter, serta puncaknya berada di perbatasan antara enam kabupaten yaitu Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek.
Baru-baru ini terdengar suara gemuruh di daerah dekat Gunung Wilis. Awalnya banyak yang berpendapat bahwa aktivitas vulkanisme di gunung ini kembali “bangun”. Sekedar informasi, Gunung Wilis merupakan gunung api yang sudah lama sekali tidak menunjukkan aktivitas vulkanismenya secara aktif atau bisa dikatakan telah “mati”. Namun, hal tersebut tidak membuktikan bahwa gunung ini tidak pernah menunjukkan aktivitas vulkanismenya. Dahulu, diprediksikan telah terjadi letusan yang cukup hebat di gunung ini, terlihat dari bentuk puncaknya yang nyaris sempurna.
Suara gemuruh tersebut dihasilkan oleh dentuman dan getaran yang terjadi di Gunung Wilis. Akibatnya, permukaan tanah di lereng Gunung Wilis mengalami keretakan dengan panjang mencapai 2 kilometer. Retak dengan kerenggangan antara 10 centimeter hingga seukuran tubuh orang dewasa tersebut memiliki kedalaman hingga 5 meter. Fenomena ini berdasarkan penelitian ESDM Jatim dan BMKG dipicu oleh adanya gempa berkekuatan 0,5 - 3 mmi pada kedalaman 3 - 5 kilometer di bawah permukaan tanah. Dari fakta tersebut, banyak yang beranggapan bahwa gempa tersebut disebabkan adanya aktivitas vulkanisme yang kembali aktif dan dikhawatirkan akan terjadi letusan dalam beberapa hari kedepan.
Namun semua anggapan itu dipatahkan oleh pendapat dari tim Pusat Vukanologi dan Mitigasi Bencana Alam (PVMBA) Bandung. Mereka beranggapan bahwa dinamika geologi pada blok batuan di patahan atau sesar yang disebut Sesar Grindulu serta interaksinya dengan sesar-sesar kecil di kawasan antara Gunung Wilis dan pegunungan kapur di selatan Trenggalek diyakini menjadi penyebab munculnya suara gemuruh. Meski demikian, tidak didapati potensi bahaya sehingga suara gemuruh itu nantinya diyakini hilang dengan sendirinya.
Lebih lanjut lagi, suara gemuruh yang terdengar di Gunung Wilis ini terjadi akibat adanya gerakan tanah. Adapun peristiwa tersebut disebabkan karena tanah di sekitar lereng Gunung Wilis sudah sangat lapuk yang merupakan sisa endapan vulkanik.
Adapun pelapukan adalah proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah pada dan/atau dekat permukaan bumi yang disebabkan karena proses fisik, kimia dan/atau biologi. Hasil dari pelapukan ini merupakan asal (source) dari batuan sedimen dan tanah (soil). Kiranya penting untuk diketahui bahwa proses pelapukan akan menghacurkan batuan atau bahkan melarutkan sebagian dari mineral untuk kemudian menjadi tanah atau diangkut dan diendapkan sebagai batuan sedimen klastik. Sebagian dari mineral mungkin larut secara menyeluruh dan membentuk mineral baru. Inilah sebabnya dalam studi tanah atau batuan klastika mempunyai komposisi yang dapat sangat berbeda dengan batuan asalnya. Komposisi tanah tidak hanya tergantung pada batuan induk (asal) nya, tetapi juga dipengaruhi oleh alam, intensitas, dan lama (duration) pelapukan dan proses jenis pembentukan tanah itu sendiri (Boggs, 1995).
Selain aktivitas pelapukan, daerah ini juga memang tergolong daerah yang labil karena terdapat banyak patahan. Suara-suara gemuruh yang terdengar di sekitar lereng Gunung Wilis ditimbulkan akibat watak formasi batuan pada lempeng geologi di kawasan ini, yang berupa batu gamping (kapur) di antaranya menjadi gamping keras atau marmer, sehingga diduga menimbulkan suara keras akibat pergerakan-pergerakan, tumbukan-tumbukan batuan, yang akhirnya membentuk suatu retakan panjang di daerah ini.
-The End-

Apa Itu Sesar??


.


Pengertian Sesar
Struktur sesar adalah rekahan yang mengalami geser-geseran yang jelas (Tjia, 1977). Pergerakan dapat berkisar dari beberapa milimeter sampai ratusan meter dan panjangnya dapat mencapai beberapa desimeter hingga ribuan meter. Sesar dapat terjadi pada segala jenis batuan. Akibat terjadinya pergeseran itu, sesar akan mengubah perkembangan topografi, mengontrol air permukaan dan bawah permukaan, merusak stratigrafi batuan, dan sebagainya.
1.1 Jenis-jenis Sesar
Sesar dapat diklasifikasikan berdasarkan gerak relatif hanging wall dan foot wall, ada tidaknya gerakan rotasi, rake net slip, keaktifan sesar, dan kumpulan sesar.
Berdasarkan gerak relatif hanging wall dan foot wall, sesar dibagi menjadi:
1.  Sesar Turun (Normal Fault), yaitu bila hanging wall posisinya turun terhadap footwall.
2. Sesar Naik (Reverse Fault), yaitu sesar dimana hanging wall posisinya naik terhadap footwall.
Berdasarkan Klasifikasi Sesar oleh E.W.Spencer, (1977), sesar dikelompokkan menjadi:
1. Sesar translasi, merupakan sesar dimana tidak ada gerak rotasi dari masing-masing blok dan garis-garis sejajar dari blok yang berlawanan tetap sejajar.
2. Sesar rotasi, yaitu sesar dimana ada gerak rotasi dari blok yang satu terhadap yang lain dan garis-garis sejajar dari blok yang berlawanan menjadi tidak sejajar.
Berdasarkan besar rake dari net slip (Billinge 1977)., sesar terbagi menjadi:
1. Strike Slip Fault, yaitu bila rake 0o dan arah gerakan sejajar terhadap jurus bidang sesar.
2. Dip Slip Fault, yaitu bila rake 90o dan arah gerakan tegak lurus dengan jurus bidang sesar.
3. Diagonal Fault, yaitu bila rake tidak sama dengan 0o dan 90o.
Berdasarkan keaktifan sesar, sesar diklasifikasikan menjadi:
1. Menurut Tjia (1976), tingkat keaktifan sesar dibedakan atas:
a. Sesar Aktif, yaitu pergeseran sesar terjadi pada waktu Holosen atau selama sejarah geologi.
b. Sesar berkeaktifan potensial, yaitu sesar terjadi pada batuan berumur kwarter dan terjadi pada daerah gempa bumi / gunungapi.
c. Sesar berkeaktifan tidak pasti, yaitu pergeseran sesar yang terjadi lebih tua daripada kwarter, sesar ini terjadi pada batu gamping dan pada lereng yang curam.
2. Menurut Lensen (1980), tingkat keaktifan sesar dibedakan atas:
a. Sesar aktif kelas I, yaitu sesar yang menunjukkan pengulangan gerakan terakhir pada waktu 5.000 tahun atau gerakan tunggal terjadi selama zaman dan pengulangan gerakan pada 5.000 tahun terakhir.
b. Sesar aktif kelas II, yaitu sesar kurang aktif dengan pengulangan terakhir dalam waktu 50.000 tahun atau gerakan tunggal dalam waktu 5.000 tahun, pengulangan gerakan antara 5.000 - 50.000 tahun.
c. Sesar aktif kelas III, yaitu sesar yang paling kurang aktif dengan gerakan tunggal terakhir dalam waktu 50.000 tahun atau pengulangan gerakan 50.000 – 500.000 tahun.
Berdasarkan kumpulan sesar dengan kekhasan yang dimilkinya, sesar dibagi menjadi:
1. Concentric Fault, yaitu kumpulan sesar yang konsentris terhadap satu pusat.
2. Radial Fault, merupakan kumpulan sesar yang arahnya membentuk pola.
3. Rectilinier Fault, yaitu kumpulan sesar yang membentuk pola garis hampir tegak lurus.
4. Paralel Fault, merupakan kumpulan sesar yang membentuk pola sejajar satu dengan lainnya.
Berdasarkan orientasi pola tegasan utama yang menyebabkannya (Anderson, 1951) :
1. Thrust fault, jika pola tegasan utama maksimum dan intermediet adalah horizontal.
2. Normal fault, jika pola tegasan utama maksimum adalah vertikal.
3. Wrench fault (strike slip fault), jika suatu pola tegasan utama maksimum dan minimum adalah gorizontal.
1.2   Proses Terbentuk Sesar
SESAR NAIK
Sesar naik atau Thrust fault, terjadi apabila hanging wall relatif bergerak naik terhadap foot wall. Berdasarkan sistem tegasan pembentuk sesarnya, posisi tegasan utama dan tegasan minimum adalah horizontal dan tegasan menengah adalah vertical.
Umumnya sesar naik tidak pernah berdiri sendiri atau berkembang tunggal. Sesar selalu membentuk suatu zona (fault zone), sehingga pada zona sesar dijumpai sejumlah bidang sesar. Masing-masing bidang sesar tersebut membentuk pola yang sama, yaitu bidang sesar umumnya memiliki arah kemiringan yang sama dan arah jalur sesarnya relatif sama. Sejumlah sesar naik (Thrust zone) yang terbentuk pada periode tektonik yang sama dinamakan sebagai Thrust Systems (Boyer dan Elliott, 1982). Pada Thrust System, ada dua jenis pola sesar utama, yaitu Imbricate Fan dan Duplexes. Pola struktur Imbricate Fan dicirikan dengan adanya Thrust sheet yang di dalamnya berkembang struktur lipatan asimetri dan rebah mengikuti arah Tectonic transport, sedangkan di dalam pola Duplex , Thrust sheet dilingkupi oleh sesar (Boyer dan Elliott, 1982).
Sesar naik dengan pola Imbricate fan atau pola susun genteng dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu Trailling imbricate fan dan Leading imbricate fan. Kedua jenis pola sesar tersebut dibedakan berdasarkan besarnya jarak pergeseran (Dispclacement). Trailling imbricate fan dicirikan oleh adanya displacement yang besar pada bagian paling belakang dari seluruh sesar naik (dilihat dari Tectonic transport), sebaliknya dinamakan Leading imbricate fan.
Sesar naik dapat dibedakan jenisnya berdasarkan pada posisi bidang sesar terhadap sumbu lipatan dan arah tectonic transport. Sesar naik yang terbentuk dibagian belakang sumbu lipatan dinamakan sebagai Forelimb thrust, sedangkan yang berkembang dibagian depan sumbu lipatan dinamakan sebagai Backlimb thrust. Berdasarkan pada tectonic transportnya, sesar naik dibedakan menjadi Back thrust dan Fore thrust. Apabila gerak relatif dari sesar naik searah dengan pada tectonic transportnya,, maka sesar naik tersebut dinamakan sebagai fore thrust dan sebaliknya dinamakan sebagai Back thrust. Back thrust yang terbentuk di dalam Thrust system dapat membentuk Pop-up dan Triangle zone.
Di dalam Thrust system, posisi bidang sesar dapat relatif sejajar dengan bidang lapisan batuan yang dinamakan sebagai flat dan apabila memotong bidang lapisan dinamakan sebagai ramp. Apabila posisi flat searah dengan Tectonic transport dinamakan frontal ramp dan sebaliknya dinamakan sebagai back thrust.
Gerak relatif suatu blok terhadap blok yang lainnya dapat terjadi sepanjang flat dan ramp. Blok hanging wall yang menumpang di atas flat dinamakan sebagai hangingwall ramp sedangkan blok foot wall yang berada di bagian ramp dinamakan sebagai footwall ramp.
Terbentuknya sejumlah sesar naik tidak terjadi secara bersamaan melainkan terbentuk secara berurutan (Sequence of thrusting). Apabila urutan pembentukan sesar naiknya makin muda ke arah hanging wall dinamakan sebagai overstep dan jika terjadi sebaliknya dinamakan sebagai piggyback.
Pembentukan sesar naik selalu berasosiasi dengan pembentukan lipatan, oleh karenanya pola lipatan dan sesar naik yang terbentuk relatif bersamaan dinamakan sebagai lipatan anjakan (Thrust fold belt atau Fold thrust belt).
Contoh pola struktur demikian dijumpai di daerah Majalengka (Haryanto, 1999), dan di daerah lain seperti di Kalimantan timur. Urutan pembentukan sesar naik di dalam jalur lipatan anjakan dimulai di sekitar jalur gunungapi dan semakin jauh dari jalur gunungapi pembentukan sesar naiknya terjadi paling akhir (Lowell, 1985).
SESAR MENDATAR
Sesar mendatar (Strike slip fault/Transcurent fault/Wrench fault) adalah sesar yang pembentukannya dipengaruhi oleh tegasan kompresi. Posisi tegasan utama pembentuk sesar ini adalah horizontal, sama dengan posisi tegasan minimumnya, sedangkan posisi tegasan menengah adalah vertikal.
Umumnya bidang sesar mendatar digambarkan sebagai bidang vertikal, sehingga istilah hanging wall dan foot wall tidak lazim digunakan di dalam sistem sesar ini. Berdasarkan gerak relatifnya, sesar ini dibedakan menjadi sinistral (mengiri) dan dekstral (menganan).
Moody dan Hill (1956), membuat model pembentukan sesar mendatar yang dikaitkan dengan sistem tegasan. Di dalam model tersebut dijelaskan bahwa sesar orde I membentuk  terhadap tegasan utama. Sesar orde I baik sudut kurang lebih 30 dekstral maupun sinistral merupakan sesar utama yang pembentukannya dapat terjadi bersamaan atau salah satu saja. Selanjutnya sesar orde II mempunyai ukuran yang lebih kecil dan membentuk sudut tertentu terhadap sesar orde I. Lebih lanjut lagi dijumpai orde sesar yang lebih kecil lagi.
Berdasarkan percobaan laboratorium, pembentukan rekahan yang diakibatkan oleh adanya tekanan diawali oleh rekahan yang berukuran kecil dan apabila peoses ini berlangsung terus rekahan kecil tersebut berkesinambungan dan akhirnya membentuk rekahan utama. Berdasarkan hasil percobaan tersebut, maka penamaan sesar orde I, II dst, bukan menunjukan urutan pembentukan sesar, melainkan menunjukan ukuran serta hubungan sudut satu sesar dengan sesar lainnya.
Ada persyaratan tertentu dalam menerapkan konsep Moody dan Hill (1954), yaitu model ini berlaku apabila pembentukan sesarnya bukan merupakan akibat reaktivasi sesar pada batuan dasar atau dengan kata lain sesarnya merupakan sesar primer.
Apabila pembentukan sesar mendatar ini merupakan reaktivasi dari sesar pada batuan dasar, maka konsep Moody dan Hill (1954) tidak tepat diterapkan. Untuk kepentingan analisis dalam kasus ini digunakan model dari Price dan Cosgrove (1956). Model pembentukan struktur yang terakhir ini akan dibahas pada sub bab selanjutnya.
Seperti halnya sesar naik, sesar mendatar pun umumnya tidak berdiri tunggal melainkan terdiri dari beberapa bidang sesar yang selanjutnya membentuk zona sesar (fault zone). Di dalam zona sesar mendatar, umumnya sesar ini membentuk segmen-segmen sesar yang merencong (en-echelon).
Naylor dkk (1986), membuat percobaan laboratorium untuk mengetahui mekanisme pembentukan sesar mendatar. Dalam percobaan tersebut pembentukan sesar terjadi secara bertahap, yaitu :
Tahap I : Terjadi sejumlah rekahan yang disertai oleh pergeseran mendatar sepanjang 2,1 cm. Masing-masing rekahan tersebut saling terpisah dan posisinya saling merencong pada arah yang relatif sama (en-echelon synthetic Riedel Shear atau R shears)  terhadap tegasan utama dan membentuk sudut lancip sekitar 17°.
Tahap II : Terbentuk pergeseran sepanjang 2,8 cm dan mulai membentuk short-lived splay fault (S) yang membentuk sudut lebih besar dari 17° terhadap tegasan utama.
SESAR NORMAL
Sesar normal (Ekstensional fault) terbentuk akibat adanya tegasan ekstensional (gaya tarikan), sehingga pada bagian tertentu gaya gravitasi lebih dominan. Kondisi ini mengakibatkan dibeberapa bagian tubuh batuan akan bergerak turun yang selanjutnya lazim dikenal sebagai proses pembentukan sesar normal.
Sesar normal terjadi apabila Hanging wall relatif bergerak ke bawah terhadap foot wall. Gerak sesar normal ini dapat murni tegak atau disertai oleh gerak lateral (sinistral atau dekstral). Sistem tegasan pembentuk sesar normal adalah ekstensional, dimana posisi tegasan utamanya vertikal sedangkan kedudukan tegasan menengah dan minimum adalah lateral.
Sesar normal umumnya terbentuk lebih dari satu bidang yang posisinya relatif saling sejajar. Apabila bidang sesarnya lebih dari satu buah, maka bagian yang tinggi dinamakan sebagai horst dan bagian yang rendah dinamakan sebagai graben. Selanjutnya apabila jenjang dari bidang sesar normal ini hanya berkembang di salah satu sisi saja (gawir sesar hanya dijumpai pada salah satu lereng saja), maka kelompok sesar tersebut lazim dinamakan sebagai half graben dan apabila jenjang bidang sesar normalnya berpasangan maka dinamakan sebagai graben.
Berdasarkan pada bentuk bidang sesar, maka sesar normal ini dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu Planar Ekstensional Fault dan Listric Ekstensional Fault. Selanjutnya Planar ekstensional fault berdasarkan ada tidaknya rotasi, dibedakan menjadi Non-rotational planar fault dan Rotational planar fault.
Secara lokal, pembentukan sesar normal dapat terjadi akibat sistem tegasan kompresional. Terbentuknya “Pull apart basin”, merupakan salah satu contoh dalam kasus ini. Contoh ideal dari pembentukan “pull apar basin” adalah terbentuknya beberapa rendahan atau cekungan (dapat berupa danau). Di beberapa lokasi sepanjang jalur Sesar Semangko, dijumpai beberapa danau yang pembentukannya dikontrol oleh sesar ini. Pembentukan sesar Semangko ini dipengaruhi oleh sistem tegasan kompresional, sedangkan pembentukan danaunya sendiri dipengaruhi oleh tegasan ekstensional. Dalam kasus ini pembentukan pull apart terjadi pada bagian sesar en-echelon.
Di dalam eksplorasi migas, ekstensional fault sistim sangat penting dipelajari, karena sistem sesar ini mengontrol pembentukan tinggian dan cekungan. Model geometri cekungan sangat dipengaruhi oleh pola struktur sesarnya yang selanjutnya mempengaruhi geometri dari cekungan itu sendiri. Graben dan half graben merupakan dua model bentuk cekungan yang seluruhnya dikontrol oleh pola sesarnya. Selanjutnya dari kontrol struktur ini juga akan diketaui apakah bentuk cekungan ini simetri atau asimetri.
Dalam geometri cekungan asimetri half graben, sesar normal yang berkembang pada batas-batas cekungan dapat berupa simple border fault system atau distributary border fault system. Selanjutnya pada sisi lain dari suatu cekungan dapat berupa flexure shoulder dan atau fault shoulder.
1.3   Cara Pendeteksian Sesar di Lapangan
Untuk mengetahui adanya sesar di lapangan, kita dapat melihat dari tanda-tanda sesar. Adapun pengenalan tanda sesar dibagi menjadi tiga yaitu berdasrakan jenisnya, aktif tidaknya dan kenampakan sesar sekunder.
Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi sebagai berikut.
1. Sesar Normal
·  Pembreksian dan pemilonitan kurang dari gejala-gejala serupa pada jalur sesar mendatar atau jalur sesar sungkup. Tebal jalur sesar normal juga lebih tipis dibanding dengan jalur sesar yang lain.
·  Sesar normal dapat berpola sejajar dengan struktur daerah (yaitu sejajar dengan sumbu perlipatan), tegak terhadap struktur, radial atau tangential terhadap struktur kubah dan gunungapi. Ada kalanya struktur tidak memperlihatkan hubungan dengan sesar. Dalam hal demukian barangkali sesar mengikuti bidang lemah yang ada pada kerak bumi.
·   Sesar normal jelas menunjukkan keadaan tegangan (tension) ditempat sesar berada..
·   Nilai gerak sesar tegak (fault throw) dapaat mencapai ratusan meter, akan tetapi tiap-tiap satu pergerakan biasanya tidak melebihi 10 m dan rata-rata berkisar antara 2 - 5 m.
·   Dapat menimbulkan sesar-sesar jenjang yaitu terban (gradien) dan sembul (horst).
· Sesar normal dapat bersumber pada sebab-sebab dangkal (seperti akibat undermining, collapse daripada ruangan di bawah permukaan bumi, pengambilan air tanah atau minyak tanah yang berlebihan), atau akibat kejadian yang lebih dalam seperti pengosongan dapur magma di bawah gunungapi, pelongsoran bawah anah sepanjang lapisan plastik (lempung, anhidrit, garam batu), penggelembungan muka bumi (oleh intrusi batuan beku, penyesaran sungkup).
·   Kemiringan bidang sesar curam, yaitu sekitar 60o. Slickerside pada bidang sesar menukik curam.
·   Kemungkinan ada sesar sintetik dan antitetik. Sesar antitetik membuat sudut curam dengan muka bumi serta membuat sudut dihedron sebesar 50o sampai 60o dengan sesar induk. Sesar sintetik sejajar dengan sesar induk.
·   Efek sekunder dari penyesaran normal adalah susutan darat (mass wastage) berupa tanah logsor pada tebing-tebing yang curam.
2. Sesar Naik
·      Jalur sesar tersingkap berliku-liku di permukaan bumi, terutama pada sesar sungkup.
·      Bidang sesar membuat sudut 30o atau lebih dengan muka bumi (sesar naik) atau membuat sudut lebih kecil daripada 30o (sesar sungkup). Slickenside pada bidang sesar adalah tegak hingga serong terhasap jurus sesar.
·      Sesar naik hingga sungkup dapat berubah jadi lipatan pada ujung sesar.
·      Naiknya arah pergeseran sesar hingga sungkup hanya dapat diketahui dengan penyelidikan terperinci, seperti memperhatiakan gejala seretan, tanda-tanda kecil pada bidang sesar. Kerap kali pergeseran adalah searah dengan slickenside dan mendaki bidang sesar.
·      Sesar naik dansesar sungkup dapat disebabkan oleh longsoran atau oleh daya tektonik. Dengan lain perkataan kompresi penyebab sesar naik / sungkup bekerja pada bidang horizontal atau hampir horizontal.Sesar-sesar naik sekunder yang berjurus sejajar dengan sesar naik (atau sungkup) utama terdapat pada bagian yang naik. Sering kepingan-kepingan batuan yang terapit sesar naik membentuk struktur imbrikasi.
·      Batuan yang lebih tua menindih batuan yang lebih muda.
·      Pembreksian dan pemilonitan membentuk jalur sesar yang jelas.
·      Suatu system sesar naik hingga sungkup selalu disertai sesar-sesar turun yang berukuran lebih kecil. Sesar normal tersebut dianggap sebagai akibat gaya berat yang memulihkan keseimbangan isostasi setelah ini terganggu oleh penyesalan naik hingga sungkip itu.
3. Sesar Mendatar
·      Pembreksian dan permilonitan jelas dan dapat meliputi jalur batuan yang remuk sampai seratus meter lebih. Seluruh jalur sesar mencapai lebar sampai sepuluh kilometer (termasuk flaser-flaser).
·      Di dalam jalur sesar garis-garis sesar memperlihatkan pola anyaman. Diantara sesar, batuan yang tidak terganggu berbentuk kanta (‘Flaser’) dan berukuran panjang dan lebar sampai rausan meter.
·      Arah pergeseran horizontal dapat ditunjukkan oleh alihan batas batuan, retakan sekunder seperti rencong (en echelon fractures), gejala seretan, serta pada sesar mendatar hidup ada tanda seperti alihan terhadap bangunan, jembatan, jalan kereta api, lembah sungai, dan endapan berusia muda (endapan sungai dan gunung api yang masih hidup), pola tanaman yang teganggu dan suatu morfologi yang dikenal sebagai shutter ridges.
·      Kemiringan bidang sesar sangat curam dan umumnya tegak. Slickenside pada bidang sesar adalah mendatar atau hampir mendatar.
·      Sesar mendatar nampak di permukaan sebagai garis-garis berjalur lurus lagi panjang. Panjang jalur sesar mencapai puluhan hinggan ratusan meter pada sesar yang sejajar atau hampir sejajar dengan struktur regional.
·      Jalur sesar mendatar sering ditandai oleh deretan kolam (sag ponds).
·      Tebing tebing curam sepanjang sesar dapat menghadap ke arah yang berlawanan pada jarak dekat.
·      Batuan berdampingan yang dibatasi sesar dapat berbeda jenis dan usia geologi.
·      Sesar mendatar hampir selalu disebabkan oleh daya tektonik dan disertai gempa berfokus dangkal (kurang dari 35 kilometer).
·      Jumlah pergerakan mendatar meliputi ratusan kilometer tetapi tiap kali terjadi pergeseran jumlah pergerakan tidak melebihi 5 m, bahkan umumnya hanya beberapa desimeter saja.
·      Efek sekunder dari penyesaran mendatar adalah tanah longsor pada tebing curam, sesar normal sepanjang bidang lemah dalam kerak bumi, penggelembungan permukaan tanah sampai beberapa desimeter dekat jalur sesar. 
1.4 Kenampakan di Peta Topografi
    Sesar umumnya ditunjukan oleh adanya pola kontur rapat yang menerus lurus, kelurusan sungai dan perbukitan, ataupun pergeseran, dan pembelokan perbukitan atau sungai, dan pola aliran sungai parallel dan rectangular. Berikut ini gambar kenampakan struktur sesar di peta topografi

Pendangkalan Sungai Musi


.

PEMBAHASAN


Sungai merupakan jalan air alami mengalir menuju samudera, danau atau laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai dimana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.

Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.

Di Sumatera Selatan, khususnya di Palembang, Sungai Musi sangat berperan penting dalam kehidupan perekonomian masyarakat Palembang. Tidak hanya dijadikan sebagai sarana jalur transportasi, tapi juga banyak yang menggunakan airnya sebagai bahan baku industri. Sebagai contoh, PT Pusri, perusahaan pembuat pupuk berskala nasional, menggunakan air Sungai Musi sebagai bahan baku pembuatan pupuk urea.

Peranan Sungai Musi yang sangat vital dalam kehidupan hingga disebut sebagai urat nadi Palembang saat ini mulai dihantui berbagai masalah. Salah satu permasalahannya, yaitu terjadinya pendangkalan sungai yang terus meningkat setiap tahunnya. Tentunya hal ini bisa sangat merugikan bagi Pemprov Sumatera Selatan. Apalagi saat ini Provinsi Sumatera Selatan sedang gencar-gencarnya menarik minat para investor untuk menanamkan modal dalam berbagai sektor bisnis di Sumatera Selatan. Jika pendangkalan ini terus berlanjut tanpa adanya perhatian serius dari Pemprov Sumatera Selatan ataupun Pemkot Palembang, maka bisa jadi dapat menghambat laju investasi di daerah ini. Alasannya tentu saja, pendangkalan sungai tersebut menyebabkan kapal-kapal pengangkut muatan besar tidak dapat menyeberangi Sungai Musi lagi.

Pendangkalan yang terjadi di Sungai Musi telah menyebabkan kedalaman sungai menjadi hanya berkisar sekitar 14-20 meter. Hal ini tentu saja mengakibatkan kapal-kapal pengangkut barang berkapasitas besar tidak dapat lagi melewati Sungai Musi. Padahal para investor yang hendak masuk ke Palembang justru menjadikan angkutan sungai sebagai pertimbangan yang penting. Itu disebabkan oleh angkutan barang melalui sungai merupakan yang paling murah jika dibandingkan dengan melalui jalur udara ataupun jalur darat yang tentunya akan mengefesiensikan pengeluaran.

Secara umum, pendangkalan sungai dapat terjadi karena adanya pengendapan partikel padatan yang terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander), waduk atau dam, ataupun muara sungai. Partikel ini bisa berupa padatan besar, seperti sampah, ranting, dan lainnya. Namun, sumber utama partikel ini biasanya berupa partikel tanah sebagai akibat dari erosi yang berlebihan di daerah hulu sungai. Air hujan akan membawa dan menggerus tanah subur di permukaan dan melarutkannya yang kemudian akan terbawa ke sungai. Proses transportasi partikel semacam ini disebut sebagai suspensi. Hasil partikel yang terbawa ini biasanya akan berupa lumpur tanah dan kemudian tersedimentasi di dasar sungai.

Ada beberapa penyebab terjadinya pendangkalan Sungai Musi. Salah satunya, yaitu akibat adanya aktivitas pengambilan air sungai oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air Musi yang berlokasi di Desa Ujanmas Atas, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Air sungai yang diambil oleh PLTA tersebut, yaitu sebesar 62 m3/detik. Adapun air dari sisa aktivitas itu dibuang ke laut daerah Bengkulu. Hanya sebanyak 1,1 m3/ detik yang dikembalikan ke Sungai Musi.

Selain itu, adanya aktivitas penggundulan hutan di daerah Sumatera Selatan juga turut menambah persoalan di daerah aliran sungai. Akibatnya, daerah tangkapan air jadi rusak sehingga menyebabkan longsor, degradasi, dan agradasi dasar sungai. Belum lagi adanya pencemaran air di Sungai Musi yang disebabkan oleh operasional pabrik-pabrik.

Pada dasarnya, sedimentasi yang terjadi di Sungai Musi memang termasuk sedimentasi tingkat tinggi disebabkan adanya pertemuan arus antara Sungai Musi dan arus laut di Selat Bangka. Kondisi pendangkalan Sungai Musi kian parah karena endapan lumpur mencapai sekitar 40 cm per bulan. Bahkan, volume endapan bisa mencapai 2,5 juta meter3. Sepanjang alur pelayaran Sungai Musi dari Pelabuhan Boom Baru hingga Selat Bangka, terdapat 13 titik pendangkalan. Empat titik sudah sangat rawan, karena pendangkalannya mencapai 4 meter. Lokasi yang cukup rawan itu, yakni di C2 dan C3, Pulau Payung bagian utara dan Muara Jaram, sedangkan lokasi yang mengalami pendangkalan paling parah, antara lain di ambang luar, Muara Selat Jaran, dan perairan bagian Selatan Pulau Payung serta panjang sedimentasi itu bisa mencapai 7 km.

SOLUSI

Guna mengatasi pendangkalan di Sungai Musi, Pemprov Sumatera Selatan dan Pemkot Palembang telah melakukan upaya pengerukan dasar sungai (dredging) yang bertujuan untuk mengangkat partikel-partikel lumpur yang telah tersedimentasi di dasar sungai ke daerah lain. Pengerukan Sungai Musi ini sendiri berkaitan erat dengan aspek ekonomi bagi aktivitas masyarakatnya. Bila tidak dilakukan, tentunya kapal-kapal besar dari luar Sumsel bahkan luar negeri tidak dapat masuk ke ilir lebih jauh. Imbasnya, kegiatan perekonomian dipastikan terganggu. Secara finansial, upaya pengerukan Sungai Musi tiap tahunnya memang memerlukan anggaran dana yang besar. Namun, hal itu harus terus dilakukan mengingat dampak pendangkalan sungai ini juga tidak sedikit. Soal teknis pengerukan, nantinya lumpur yang berada di sepanjang alur Sungai Musi akan dikeruk dan dipindahkan menggunakan sistem dumping area.

Pendek kata, lumpur yang diangkat dari alur sungai akan dibuang ke daerah lain di Sungai Musi yang masih memungkinkan. Hal itu disebabkan oleh sulitnya membuang lumpur tersebut langsung ke laut karena biaya untuk itu juga jauh lebih besar dari biaya pengerukannya sendiri.

Namun jauh lebih penting dari itu, setiap komponen masyarakat harus saling bekerja sama untuk menjaga kebersihan sungai, utamanya bagi masyarakat yang hidup di daerah hutan dekat Sungai Musi. Jika penebangan hutan secara liar masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin Sungai Musi tidak akan bisa digunakan lagi sebagai sarana angkutan sungai bagi kapal muatan besar. Karena data telah menunjukkan bahwa tingkat sedimentasi di dasar Sungai Musi lebih tinggi dibandingkan dengan persentase upaya pengerukan dasar Sungai Musi. Oleh karena itu, cara yang paling efektif, yaitu dengan berkoordinasi dengan seluruh komponen masyarakat Sumatera Selatan sambil terus melakukan upaya pengerukan dasar Sungai Musi.

KESIMPULAN

· Pendangkalan sungai terjadi karena adanya pengendapan partikel padatan yang terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander), waduk atau dam, ataupun muara sungai.

· Partikel ini bisa berupa padatan besar, seperti sampah, ranting, dan lainnya. Namun, sumber utama partikel ini biasanya berupa partikel tanah sebagai akibat dari erosi yang berlebihan di daerah hulu sungai.

· Beberapa penyebab pendangkalan di Sungai Musi, antara lain:

Ø Penebangan hutan secara liar di daerah hutan dekat sungai.

Ø Sedimentasi tinggi akibat adanya pertemuan arus Sungai Musi dengan arus laut di Selat Bangka.

Ø Pengambilan air oleh PLTA di daerah Bengukulu dalam jumlah besar tanpa pengembalian debit air yang seimbang.

· Upaya untuk mengatasi pendangkalan sungai telah dilakukan, yaitu dengan cara pengerukan dasar sungai (dredging). Namun, cara ini sering terkendala oleh masalah dana yang sangat tinggi dan perebutan pemimpin proyek oleh Pemda Sumsel dan Pemerintah Pusat.

· Pendangkalan sungai bisa diatasi jika seluruh kompenen masyarakat bisa saling bekerja sama sambil terus melakukan upaya pengerukan dasar sungai.

Kaldera pada Gunung Bromo


.


Gunung Bromo (2.329 m dpl), adalah salah satu gunung dari beberapa gunung lainnya yang terhampar di kawasan Komplek Pegunungan Tengger, berdiri di areal Kaldera berdiameter 8-10 km yang dinding kalderanya mengelilingi laut pasir sangat terjal dengan kemiringan ± 60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter.

Pada hamparan pasir yang sangat luas (Laut Pasir), terdapat gunung-gunung yang berada di tengahnya, yaitu Gunung Bromo (2.392 m dpl), Gunung Batok ( 2.440 m dpl), Gunung Widodaren (2.614 m dpl), Gunung Watangan (2.601 m dpl) dan Gunung Kursi (2.581 m dpl). Dinding kaldera yang mengelilingi laut pasir sangat terjal dengan kemiringan ±60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter. Daya tarik Gunung Bromo yang istimewa adalah kawah di tengah kawah dengan lautan pasirnya yang membentang luas di sekeliling kawah Bromo yang sampai saat ini masih terlihat mengepulkan asap putih setiap saat, manandakan Gunung ini masih aktif.

Awalnya Gunung Bromo dan lautan pasir berasal dari dua gunung yang saling berimpitan satu sama lain. Gunung Tengger (4.000 m dpl) yang merupakan gunung terbesar dan tertinggi pada waktu itu. Kemudian terjadi letusan kecil, materi vulkanik terlempar ke tenggara sehingga membentuk lembah besar dan dalam sampai ke desa Sapi Kerep. Letusan dahsyat kemudian menciptakan kaldera dengan diameter lebih dari delapan kilometer. Karena dalamnya kaldera, materi vulkanik letusan lanjutan tertumpuk di dalam dan sekarang menjadi lautan pasir.

Dahulu, kaldera tersebut diduga pernah terisi oleh air dan kemudian aktivitas lanjutan adalah munculnya lorong magma di tengah kaldera sehingga muncul gunung-gunung baru, antara lain Lautan Pasir, Gunung Widodaren, Gunung Watangan, Gunung Kursi, Gunung Batok dan Gunung Bromo.

Gunung Bromo memiliki karakteristik letusan yang berbeda jika dibandingkan dengan gunung api lainnya. Jika kita bandingkan dengan Gunung Merapi yang tergolong sebagai high volcanic, Gunung Bromo memiliki karakteristik erupsi kecil. Material yang dikeluarkan saat letusan Gunung Bromo dapat berupa pasir dan abu dengan radius 6 – 10 km. Hal itu berbeda dengan material yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi yang dapat berupa lava yang sangat kental yang bisa menyumbat mulut kawah sehingga tekanan gas didalamnya semakin bertambah yang pada akhirnya membuat awan panas “wedhus gembel” keluar.Jika kita membahas Gunung Bromo, tentunya juga akan membahas mengenai kaldera di Pegunungan Tengger itu sendiri, sebab Gunung Bromo sendiri merupakan gunung api yang berada di kawasan kaldera Pegunungan Tengger.

Berdasarkan bentuknya, Gunung Bromo termasuk ke dalam jenis kaldera, yaitu gunung api yang terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang kemudian melempar ujung atas gunung itu sendiri. Adapun pengertian kaldera adalah fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik. Istilah kaldera sering tertukar dengan kawah vulkanik. Kata "kaldera" sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya wajan. Terdapat dua teori mengenai pembentukan kaldera, yaitu kaldera terbentuk melalui erupsi besar dan kaldera yang terbentuk melalui erupsi kecil.Untuk teori pertama, kaldera suatu gunung api terbentuk akibat aktivitas erupsi yang sangat besar yang mengakibatkan magma di dalam dapur magma (magma chamber) habis. Saat erupsi berlangsung, gas-gas yang berada di dalam magma cair terus menekan hingga akhirnya dapat menjadi sumber energi keluarnya magma. Ketika semua material beserta gas ini keluar, hal ini membuat magma chamber menjadi kosong dan akhirnya bagian atas gunung api menjadi ambles ke bawah dan diisi dengan material lain. Ada juga yang kemudian membentuk gunung api baru didalamnya.

Lalu, untuk teori yang kedua, pembentukan kaldera dapat disebabkan oleh erupsi yang kecil. Ketika erupsi berlangsung, lelehan lava pijar menerobos keluar melalui celah disamping gunung. Akhirnya celah itulah yang menjadi jalan keluar magma yang berasal dari magma chamber. Lalu sama seperti teori pertama, bagian atas gunung api tersebut kemudian ambles ke bawah dan membentuk kaldera. Kedua teori tersebut pada dasarnya bekerja sesuai dengan hukum gravitasi. Ketika ruang dapur magma (magma chamber) menjadi kosong, maka gaya gravitasi menarik dinding atas gunung ke bawah dan akhirnya terjadilah amblesan yang membentuk kaldera.


Berdasarkan teori pembentukan kaldera diatas, maka pembentukan kaldera pada Gunung Bromo termasuk ke dalam teori pertama, yaitu pembentukan yang melalui erupsi kecil. Hal itu disebabkan aktivitas vulkaniknya yang tidak terlalu besar seperti Gunung Merapi dan juga erupsinya tergolong erupsi kecil. Selain itu, Gunung Bromo juga berada di dalam kawasan kaldera Pegunungan Tengger sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik pada magma chamber menjadi terbagi dengan gunung api lainnya.

NewLifeNewHabits


.

Yahh..I'm back :)
Setelah berbulan-bulan gak posting gara2 demam facebook, akhirnya gw dateng lagi kepada Anda semua hahaha.. (gak jelas emang)

Oke, sekarang bisa diomongin gw lagi brusaha make enjoy myself di kehidupan yang serba baru ini. Lingkungan baru, orang-orang baru, bahasa baru, pokoknya serba baru dah. Dulu gw yang suka tidur nonton tidur nonton, sekarang perlahan-lahan udah gak bisa gw nikmatin lagi. Dulu gw yang biasanya pake bahasa 'Aku' dan 'Kau' (eits, bukan iklan susu ye) ala Palembang, sekarang udah mulai brubah pake 'Ane Antum/Ente' atau 'Gue Loe'. Gila, all of these make me freak !!!

Tapi gue sadar, namanya juga serba baru. Kuliah di tempat jauh dari orang tua ternyata punya kesan tersendiri lho. Contohnya gw nih, gw termasuk orang yang males buat ngomong sama orang yang gak dikenal, atau paling gak nyapa duluan orang. Tapi sekarang, gw harus berubah. Gw gak bisa lagi seenak jidat gw (emang banyak maunya tuh jidat) serba gak mau tahu sama lingkungan sekitar. Gw sekarang jauh dari orang tua, bro! Jadi yang gw perluin disini sekarang, yaitu temen-temen :)

i hope i could be good here :)

NB : buat catetan nih, gw yang sekarang adalah seorang mahasiswa teknik geologi Universitas Diponegoro, Semarang. Wah mantep abis nih status sekarang hahaha.. :D
oke, i'll keep writing.