Pelapukan Sebagai Penyebab Retakan di Lereng Gunung Wilis
.
Category Geologi
Apa Itu Sesar??
.
Pembentukan sesar naik selalu berasosiasi dengan pembentukan lipatan, oleh karenanya pola lipatan dan sesar naik yang terbentuk relatif bersamaan dinamakan sebagai lipatan anjakan (Thrust fold belt atau Fold thrust belt).
Umumnya bidang sesar mendatar digambarkan sebagai bidang vertikal, sehingga istilah hanging wall dan foot wall tidak lazim digunakan di dalam sistem sesar ini. Berdasarkan gerak relatifnya, sesar ini dibedakan menjadi sinistral (mengiri) dan dekstral (menganan).
Naylor dkk (1986), membuat percobaan laboratorium untuk mengetahui mekanisme pembentukan sesar mendatar. Dalam percobaan tersebut pembentukan sesar terjadi secara bertahap, yaitu :
Sesar normal umumnya terbentuk lebih dari satu bidang yang posisinya relatif saling sejajar. Apabila bidang sesarnya lebih dari satu buah, maka bagian yang tinggi dinamakan sebagai horst dan bagian yang rendah dinamakan sebagai graben. Selanjutnya apabila jenjang dari bidang sesar normal ini hanya berkembang di salah satu sisi saja (gawir sesar hanya dijumpai pada salah satu lereng saja), maka kelompok sesar tersebut lazim dinamakan sebagai half graben dan apabila jenjang bidang sesar normalnya berpasangan maka dinamakan sebagai graben.
Dalam geometri cekungan asimetri half graben, sesar normal yang berkembang pada batas-batas cekungan dapat berupa simple border fault system atau distributary border fault system. Selanjutnya pada sisi lain dari suatu cekungan dapat berupa flexure shoulder dan atau fault shoulder.
Category Geologi
Pendangkalan Sungai Musi
.
PEMBAHASAN
Sungai merupakan jalan air alami mengalir menuju samudera, danau atau laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai dimana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai.
Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.
Di Sumatera Selatan, khususnya di Palembang, Sungai Musi sangat berperan penting dalam kehidupan perekonomian masyarakat Palembang. Tidak hanya dijadikan sebagai sarana jalur transportasi, tapi juga banyak yang menggunakan airnya sebagai bahan baku industri. Sebagai contoh, PT Pusri, perusahaan pembuat pupuk berskala nasional, menggunakan air Sungai Musi sebagai bahan baku pembuatan pupuk urea.
Peranan Sungai Musi yang sangat vital dalam kehidupan hingga disebut sebagai urat nadi Palembang saat ini mulai dihantui berbagai masalah. Salah satu permasalahannya, yaitu terjadinya pendangkalan sungai yang terus meningkat setiap tahunnya. Tentunya hal ini bisa sangat merugikan bagi Pemprov Sumatera Selatan. Apalagi saat ini Provinsi Sumatera Selatan sedang gencar-gencarnya menarik minat para investor untuk menanamkan modal dalam berbagai sektor bisnis di Sumatera Selatan. Jika pendangkalan ini terus berlanjut tanpa adanya perhatian serius dari Pemprov Sumatera Selatan ataupun Pemkot Palembang, maka bisa jadi dapat menghambat laju investasi di daerah ini. Alasannya tentu saja, pendangkalan sungai tersebut menyebabkan kapal-kapal pengangkut muatan besar tidak dapat menyeberangi Sungai Musi lagi.
Pendangkalan yang terjadi di Sungai Musi telah menyebabkan kedalaman sungai menjadi hanya berkisar sekitar 14-20 meter. Hal ini tentu saja mengakibatkan kapal-kapal pengangkut barang berkapasitas besar tidak dapat lagi melewati Sungai Musi. Padahal para investor yang hendak masuk ke Palembang justru menjadikan angkutan sungai sebagai pertimbangan yang penting. Itu disebabkan oleh angkutan barang melalui sungai merupakan yang paling murah jika dibandingkan dengan melalui jalur udara ataupun jalur darat yang tentunya akan mengefesiensikan pengeluaran.
Secara umum, pendangkalan sungai dapat terjadi karena adanya pengendapan partikel padatan yang terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander), waduk atau dam, ataupun muara sungai. Partikel ini bisa berupa padatan besar, seperti sampah, ranting, dan lainnya. Namun, sumber utama partikel ini biasanya berupa partikel tanah sebagai akibat dari erosi yang berlebihan di daerah hulu sungai. Air hujan akan membawa dan menggerus tanah subur di permukaan dan melarutkannya yang kemudian akan terbawa ke sungai. Proses transportasi partikel semacam ini disebut sebagai suspensi. Hasil partikel yang terbawa ini biasanya akan berupa lumpur tanah dan kemudian tersedimentasi di dasar sungai.
Ada beberapa penyebab terjadinya pendangkalan Sungai Musi. Salah satunya, yaitu akibat adanya aktivitas pengambilan air sungai oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air Musi yang berlokasi di Desa Ujanmas Atas, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Air sungai yang diambil oleh PLTA tersebut, yaitu sebesar 62 m3/detik. Adapun air dari sisa aktivitas itu dibuang ke laut daerah Bengkulu. Hanya sebanyak 1,1 m3/ detik yang dikembalikan ke Sungai Musi.
Selain itu, adanya aktivitas penggundulan hutan di daerah Sumatera Selatan juga turut menambah persoalan di daerah aliran sungai. Akibatnya, daerah tangkapan air jadi rusak sehingga menyebabkan longsor, degradasi, dan agradasi dasar sungai. Belum lagi adanya pencemaran air di Sungai Musi yang disebabkan oleh operasional pabrik-pabrik.
Pada dasarnya, sedimentasi yang terjadi di Sungai Musi memang termasuk sedimentasi tingkat tinggi disebabkan adanya pertemuan arus antara Sungai Musi dan arus laut di Selat Bangka. Kondisi pendangkalan Sungai Musi kian parah karena endapan lumpur mencapai sekitar 40 cm per bulan. Bahkan, volume endapan bisa mencapai 2,5 juta meter3. Sepanjang alur pelayaran Sungai Musi dari Pelabuhan Boom Baru hingga Selat Bangka, terdapat 13 titik pendangkalan. Empat titik sudah sangat rawan, karena pendangkalannya mencapai 4 meter. Lokasi yang cukup rawan itu, yakni di C2 dan C3, Pulau Payung bagian utara dan Muara Jaram, sedangkan lokasi yang mengalami pendangkalan paling parah, antara lain di ambang luar, Muara Selat Jaran, dan perairan bagian Selatan Pulau Payung serta panjang sedimentasi itu bisa mencapai 7 km.
SOLUSI
Guna mengatasi pendangkalan di Sungai Musi, Pemprov Sumatera Selatan dan Pemkot Palembang telah melakukan upaya pengerukan dasar sungai (dredging) yang bertujuan untuk mengangkat partikel-partikel lumpur yang telah tersedimentasi di dasar sungai ke daerah lain. Pengerukan Sungai Musi ini sendiri berkaitan erat dengan aspek ekonomi bagi aktivitas masyarakatnya. Bila tidak dilakukan, tentunya kapal-kapal besar dari luar Sumsel bahkan luar negeri tidak dapat masuk ke ilir lebih jauh. Imbasnya, kegiatan perekonomian dipastikan terganggu. Secara finansial, upaya pengerukan Sungai Musi tiap tahunnya memang memerlukan anggaran dana yang besar. Namun, hal itu harus terus dilakukan mengingat dampak pendangkalan sungai ini juga tidak sedikit. Soal teknis pengerukan, nantinya lumpur yang berada di sepanjang alur Sungai Musi akan dikeruk dan dipindahkan menggunakan sistem dumping area.
Pendek kata, lumpur yang diangkat dari alur sungai akan dibuang ke daerah lain di Sungai Musi yang masih memungkinkan. Hal itu disebabkan oleh sulitnya membuang lumpur tersebut langsung ke laut karena biaya untuk itu juga jauh lebih besar dari biaya pengerukannya sendiri.
Namun jauh lebih penting dari itu, setiap komponen masyarakat harus saling bekerja sama untuk menjaga kebersihan sungai, utamanya bagi masyarakat yang hidup di daerah hutan dekat Sungai Musi. Jika penebangan hutan secara liar masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin Sungai Musi tidak akan bisa digunakan lagi sebagai sarana angkutan sungai bagi kapal muatan besar. Karena data telah menunjukkan bahwa tingkat sedimentasi di dasar Sungai Musi lebih tinggi dibandingkan dengan persentase upaya pengerukan dasar Sungai Musi. Oleh karena itu, cara yang paling efektif, yaitu dengan berkoordinasi dengan seluruh komponen masyarakat Sumatera Selatan sambil terus melakukan upaya pengerukan dasar Sungai Musi.
KESIMPULAN
· Pendangkalan sungai terjadi karena adanya pengendapan partikel padatan yang terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander), waduk atau dam, ataupun muara sungai.
· Partikel ini bisa berupa padatan besar, seperti sampah, ranting, dan lainnya. Namun, sumber utama partikel ini biasanya berupa partikel tanah sebagai akibat dari erosi yang berlebihan di daerah hulu sungai.
· Beberapa penyebab pendangkalan di Sungai Musi, antara lain:
Ø Penebangan hutan secara liar di daerah hutan dekat sungai.
Ø Sedimentasi tinggi akibat adanya pertemuan arus Sungai Musi dengan arus laut di Selat Bangka.
Ø Pengambilan air oleh PLTA di daerah Bengukulu dalam jumlah besar tanpa pengembalian debit air yang seimbang.
· Upaya untuk mengatasi pendangkalan sungai telah dilakukan, yaitu dengan cara pengerukan dasar sungai (dredging). Namun, cara ini sering terkendala oleh masalah dana yang sangat tinggi dan perebutan pemimpin proyek oleh Pemda Sumsel dan Pemerintah Pusat.
· Pendangkalan sungai bisa diatasi jika seluruh kompenen masyarakat bisa saling bekerja sama sambil terus melakukan upaya pengerukan dasar sungai.
Kaldera pada Gunung Bromo
.
Gunung Bromo (2.329 m dpl), adalah salah satu gunung dari beberapa gunung lainnya yang terhampar di kawasan Komplek Pegunungan Tengger, berdiri di areal Kaldera berdiameter 8-10 km yang dinding kalderanya mengelilingi laut pasir sangat terjal dengan kemiringan ± 60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter.
Pada hamparan pasir yang sangat luas (Laut Pasir), terdapat gunung-gunung yang berada di tengahnya, yaitu Gunung Bromo (2.392 m dpl), Gunung Batok ( 2.440 m dpl), Gunung Widodaren (2.614 m dpl), Gunung Watangan (2.601 m dpl) dan Gunung Kursi (2.581 m dpl). Dinding kaldera yang mengelilingi laut pasir sangat terjal dengan kemiringan ±60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter. Daya tarik Gunung Bromo yang istimewa adalah kawah di tengah kawah dengan lautan pasirnya yang membentang luas di sekeliling kawah Bromo yang sampai saat ini masih terlihat mengepulkan asap putih setiap saat, manandakan Gunung ini masih aktif.
Awalnya Gunung Bromo dan lautan pasir berasal dari dua gunung yang saling berimpitan satu sama lain. Gunung Tengger (4.000 m dpl) yang merupakan gunung terbesar dan tertinggi pada waktu itu. Kemudian terjadi letusan kecil, materi vulkanik terlempar ke tenggara sehingga membentuk lembah besar dan dalam sampai ke desa Sapi Kerep. Letusan dahsyat kemudian menciptakan kaldera dengan diameter lebih dari delapan kilometer. Karena dalamnya kaldera, materi vulkanik letusan lanjutan tertumpuk di dalam dan sekarang menjadi lautan pasir.
Dahulu, kaldera tersebut diduga pernah terisi oleh air dan kemudian aktivitas lanjutan adalah munculnya lorong magma di tengah kaldera sehingga muncul gunung-gunung baru, antara lain Lautan Pasir, Gunung Widodaren, Gunung Watangan, Gunung Kursi, Gunung Batok dan Gunung Bromo.
Gunung Bromo memiliki karakteristik letusan yang berbeda jika dibandingkan dengan gunung api lainnya. Jika kita bandingkan dengan Gunung Merapi yang tergolong sebagai high volcanic, Gunung Bromo memiliki karakteristik erupsi kecil. Material yang dikeluarkan saat letusan Gunung Bromo dapat berupa pasir dan abu dengan radius 6 – 10 km. Hal itu berbeda dengan material yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi yang dapat berupa lava yang sangat kental yang bisa menyumbat mulut kawah sehingga tekanan gas didalamnya semakin bertambah yang pada akhirnya membuat awan panas “wedhus gembel” keluar.Jika kita membahas Gunung Bromo, tentunya juga akan membahas mengenai kaldera di Pegunungan Tengger itu sendiri, sebab Gunung Bromo sendiri merupakan gunung api yang berada di kawasan kaldera Pegunungan Tengger.
Berdasarkan bentuknya, Gunung Bromo termasuk ke dalam jenis kaldera, yaitu gunung api yang terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang kemudian melempar ujung atas gunung itu sendiri. Adapun pengertian kaldera adalah fitur vulkanik yang terbentuk dari jatuhnya tanah setelah letusan vulkanik. Istilah kaldera sering tertukar dengan kawah vulkanik. Kata "kaldera" sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya wajan. Terdapat dua teori mengenai pembentukan kaldera, yaitu kaldera terbentuk melalui erupsi besar dan kaldera yang terbentuk melalui erupsi kecil.
Lalu, untuk teori yang kedua, pembentukan kaldera dapat disebabkan oleh erupsi yang kecil. Ketika erupsi berlangsung, lelehan lava pijar menerobos keluar melalui celah disamping gunung. Akhirnya celah itulah yang menjadi jalan keluar magma yang berasal dari magma chamber. Lalu sama seperti teori pertama, bagian atas gunung api tersebut kemudian ambles ke bawah dan membentuk kaldera. Kedua teori tersebut pada dasarnya bekerja sesuai dengan hukum gravitasi. Ketika ruang dapur magma (magma chamber) menjadi kosong, maka gaya gravitasi menarik dinding atas gunung ke bawah dan akhirnya terjadilah amblesan yang membentuk kaldera.
Berdasarkan teori pembentukan kaldera diatas, maka pembentukan kaldera pada Gunung Bromo termasuk ke dalam teori pertama, yaitu pembentukan yang melalui erupsi kecil. Hal itu disebabkan aktivitas vulkaniknya yang tidak terlalu besar seperti Gunung Merapi dan juga erupsinya tergolong erupsi kecil. Selain itu, Gunung Bromo juga berada di dalam kawasan kaldera Pegunungan Tengger sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik pada magma chamber menjadi terbagi dengan gunung api lainnya.
Category geologi undip, gunung bromo, kaldera, pegunungan tengger
NewLifeNewHabits
.
Yahh..I'm back :)
Setelah berbulan-bulan gak posting gara2 demam facebook, akhirnya gw dateng lagi kepada Anda semua hahaha.. (gak jelas emang)
Oke, sekarang bisa diomongin gw lagi brusaha make enjoy myself di kehidupan yang serba baru ini. Lingkungan baru, orang-orang baru, bahasa baru, pokoknya serba baru dah. Dulu gw yang suka tidur nonton tidur nonton, sekarang perlahan-lahan udah gak bisa gw nikmatin lagi. Dulu gw yang biasanya pake bahasa 'Aku' dan 'Kau' (eits, bukan iklan susu ye) ala Palembang, sekarang udah mulai brubah pake 'Ane Antum/Ente' atau 'Gue Loe'. Gila, all of these make me freak !!!
Tapi gue sadar, namanya juga serba baru. Kuliah di tempat jauh dari orang tua ternyata punya kesan tersendiri lho. Contohnya gw nih, gw termasuk orang yang males buat ngomong sama orang yang gak dikenal, atau paling gak nyapa duluan orang. Tapi sekarang, gw harus berubah. Gw gak bisa lagi seenak jidat gw (emang banyak maunya tuh jidat) serba gak mau tahu sama lingkungan sekitar. Gw sekarang jauh dari orang tua, bro! Jadi yang gw perluin disini sekarang, yaitu temen-temen :)
i hope i could be good here :)
NB : buat catetan nih, gw yang sekarang adalah seorang mahasiswa teknik geologi Universitas Diponegoro, Semarang. Wah mantep abis nih status sekarang hahaha.. :D
oke, i'll keep writing.


